Ledakan Tabung Gas : Benahi Standard Prosedurenya


Beberapa bulan terakhir ini sering  kita dengar ledakan gas tabung 3 kg kembalimengguncang  Indonesia. Mulai dr gas tabung di tempat perbaikan kapal, sampai dengan ledakan di Tanjung Duren dan tempat2 lain di Indonesia, sampai2 ada rakyat yang meminta tanggapan presiden karena Ridho Januar yang mengalami luka bakar dari kaki hingga muka, telah mmbuat pimpinan DPR prihatin. Hal ini telah membuat Pertamina Santuni Korban Elpiji Rp2,8 Miliar.

Bukan masalah kompensasi dan uangnya bisa dibayarkan ataupun perhatian dan simpati presiden yang diperlukan. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kejadian yang berulang-ulang ini bisa dihindari.

Dari Safety Management, ada beberapa hal yang harus di benahi al :

1. Commitment and Leadership :

Commitment harus dilakukan oleh seluruh jajaran Pengambil Keputusan dan Produsen (Pertamina dan Pabrik2 tabung), terhadap pemberian pelayanan dengan kualitas prima dengan mengedepankan proteksi terhadap kesehatan dan keselamatan pengguna (baca : rakyat). Dengan demikian pemerintah melalui produsen dan pemasok  harus memberikan edukasi mengenai cara  dan prosedur pemasangan dan cara pemakaian yang benar dan aman.

Kementrian dalam Negeri bisa melatih kader2 sampai dengan level terbawah (kelurahan) untuk bisa mampu memberikan penyuluhan yang handal kepada masyarakat tingkat akar rumput (pemakai) sehingga pemahaman bisa diserap oleh masyarakat bawah dengan baik.

Jajaran Perindustrian dan penegak hukum (polisi dsb) harus selalu membantu pengawasan terhadap stasiun pengisian dan pengangkutan bulk elpiji, (SPPBE).

Para petinggi negara harus menunjukkan keterlibatannya dalam setiap proses dan menggerakkan seluruh bawahannya untuk concern dan fokus terhadap setiap hal yang berhubungan dengan energi gas unuk masyaakat ini dengan tanggap.

2.Policies and Objective

Kebijakan pemberian ijin terhadap SPPBE harus betul2 sesuai dengan kriteria yang sudah diberikan, tanpa ada celah2 yang bisa dimasuki oleh SPPBE yang tidak kompeten apalagi nakal.

Penerapan SNI tidak hanya sekedar stempel, namun harus ada database proses minimal yang harus dilakukan untuk tabung dan komponennya.

3. Organization and Resources.

Training dan sertifikasi dilakukan dengan baik tidak saja untuk SPPBE namun juga operatornya. Penyertaan masyarakat tingkat bawah bisa dilakukan dengan training dan edukasi melalui tingkat kader kelurahan.

SNI tidak hanya sebagai stempel resmi saja, namun lebih dari itu setiap anggotanya harus mengikuti dan mengawasi setiap proses produksi dan distribusinya.

4. Contractor and Supply Management

Hal ini perlu dilakukan di tingkat pengelola (Pertamina dan Pemasok2 tabung serta komponennya). Kontrol terhadap produk2 pemasok harus vbetul2 dilakukan dengan cermat. Test terhadap kualitas produk pemasok perlu dilakukan secara rutin dan terus menerus. Lakukan perbaikan terhadap produk yang tidak lolos test (Dalam hal ini tidak cukup mencari dan melihat untukmenemukan sejumlah tabung gas yang tidak berstempel Standar Nasional Indonesia (SNI), namun test fisik harus benar2 dilakukan.

5. Risk Management

Perlu diadakan penolakan produk dan penjelasan secara paripurna adanya tanda2 tabung dan komponennya yang keluar dari standard yang ada, dan apa2 yang harus dilakukan bila tanda2 tersebut ada pada tabung di rumah warga.

Hydrostatic test 50% diatas tekanan yang diperlukan haruslah selalu dilakukan untuk setiap tabung yang siklus pmakaiannya cepat, pengisiannya juga cepat. Artinya uji hidrostatik ini juga harus sesering pengisiannya dan didokumentasikan dengan baik.

Setiap tabung dengan nomor tertentu harus bisa dilacak : berapa kali diisi dan dilakukan hydrostatic test serta tanggal pelaksanaannya melalui suatu database yang komprihensif.

Proses Plan,Do,Check and Action harus benar2 dilakukans  oleh seluruh  pembuat dan pengguna. Pengelola (Pemerintah dan Pertamina) harus membuat crisis centre yang bisa beraksi dengan cepat di banyak titik hingga level kelurahan/RW/RT, sehingga adanya laporan masyarakat DAPAT BXEGERA DITINDAK LANJUTI DENGAN CEPAT DAN SEGERA.

6. Design and Planning

Design and Planning ini tidak saja dilakukan untuk pembuatan awal produk, namun seluruh produk yang diketahui tidak berfungsi dengan baik harus juga dilakukan design berdasarkan kekurangannya.

“Banyak perusahaan industri/manufaktur yang sudah lama menjalankan program K3, namun angka kecelakaan kerja masih tinggi dan berflutuasi. Angka statistik kecelakaan kerja tidak dapat ditekan hingga mencapai nihil kecelakaan (zero accident). Bahkan, hampir semua karyawan merasakan bahwa, K3 itu menghambat jalannya mata rantai produksi. Para manajer dan supervisor percaya bahwa Program K3 tidak mempunyai nilai tambah (added value) bagi dirinya maupun perusahaan. Mental melakukan tugas apa adanya (“check box mentality”) tumbuh subur di setiap lini organisasi perusahaan.”

7. Implementation and Monitoring

Implementasi terhadap kebijakan yang sudah diterapkan hendaknya selalu dilakukan pengawasan dan penindakan terhadap kesalahan dan kekurangan fungsi produk dan proses.

Monitoring bukan berarti melihat an mendengar saja, amun jauh dari itu . Tanggung jawab untuk data dan pemantauan keamanan bergantung pada tahap penelitian dan dapat dilakukan oleh pemerintah atau lembaga penelitian Kontrak  staf atau kontraktor, dan / atau oleh  penyidik  / manajer proyek melakukan penelitian. Regardless of the method used, monitoring must be performed on a regular basis. Apapun metode yang digunakan, pemantauan harus dilakukan secara teratur. Oversight of the monitoring activity is the responsibility of the Government. Pengawasan kegiatan pemantauan adalah tanggung jawab Pemerintah.

8. Assesment and Continues Improvement

Asesmen terhadap kekurangan/ketidak fungsian produk harus segera diketahui oleh Tim Pencegah Kecelakaan Pemerintah, untuk segera dilakukan perbaikan secara menyeluruh dan paripurna. Technical Audit perlu dilakukan secara gencar oleh tim secara teratur terhadap stasiun pengisian, sehingga penyelewengan terhadap proses dan produk bisa segera diketahui dan dilakukan pembenahan.


Advertisements

4 Comments

Filed under SERVICE CHAIN

4 responses to “Ledakan Tabung Gas : Benahi Standard Prosedurenya

  1. nanangrusmana

    ulasan yang sangat bagus, pak, bapak memandangnya dari sudut management, saya memandangnya dari sudut product design yang tidak sesuai dengan fungsi. Banyaknya ledakan, jika saya pelajari berdasarkan pengalaman sendiri terletak pada kekurangan aspek safety di katup pengaman gas tabung ke kompor. Dari segi design , product yang ada di pasaran yang dijual bebas sangat rentan sekali adanya kebocoran gas, disebabkan produk yang gagal memberikan aspek keselamatan. salam 🙂 saya link blog bapak ke blog saya, terimakasih.

  2. sECARA Management system harus dilihat semua aspek. Mulai segi design, implementasi, pengawasan semua harus terbebas dari kemungkinankesalahan. Minimalkan semua kemungkinan kesalahan, hingga tidak ada lagi yang bisa diminimalkan.

    Terima kadih sudah di link

  3. SATRIO WELAS

    selalu yg jadi korban rakyat kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s